Skip to main content

Walupun Kakinya Bengkak, Kakek 80 Tahun Ini Tetap Mengais Rezeki Dengan Jualan Pisang



Mbah Ratim seseorang eyang yang sudah dewasa 80 tahun tetapi sedang amat bergairah dalam mencari nafkah. Eyang ini kerap di sapaan dengan Bimbang Campakkan sedang bersemangat menggali keuntungan yang halal.

Mbah Ratim yang bermukim di Dusun Garung, Desa Cijeruk, Kibin, Serang itu tiap hari berbisnis pisang dengan memakai sepeda tuanya yang beliau membimbing saja tidak dinaiki sepanjang ekspedisi.

Baca juga :

Account Facebook unggah gambar Mbah Ratim. Account bernama Alaudien Al- Ghazalu itu membagikan uraian pada unggahannya itu Mbah Ratim yang dalam situasi sakit tetapi sedang senantiasa mendesakkan diri buat berbisnis cuma buat bertahan hidup serta kondisi kaki Mbah Ratim yang mulai bengkak sebab keseringan berjalan serta bawa dagangannya yang berat.

� Meski dalam situasi sakit namun mbah paksakan berbisnis Hanya buat bertaha hidup, lihatlah kaki mbah yang mulai bengkak karena keseringan berjalan kaki dan, enopang berat dagangannya,� catat Alaudien Al- Ghazali yang diambil dari Islambuzzer. com Rabu( 8/ 4/ 20).

Buat dapat betahan hidup serta mecukupi keinginan hidupnya, Mbah Ratim senantiasa berbisnis tiap hari meski keadaanya yang amat memprihatinkan serta kondisi rumah yang jauh dari tutur pantas.

Kita doakan mudah- mudahan Mbah Ratim senantiasa dilancarkan rezekinya oleh Allah SWT.

fenomena mengasihani orang-orang tua yang masih tetap bekerja di usia renta bagi saya cukup menarik. Ia memberikan perspektif baru dalam bersikap saat kita bertemu dengan mbah-mbah renta yang masih tetap bekerja mencari nafkah.

Baca Juga :

Belakangan, juga kerap beredar postingan bertajuk �The power of Twitter� yang salah satu tujuannya adalah melarisi dagangan atau jasa yang ditawarkan oleh orang-orang tua yang masih tetap bekerja.

Nah, salah satu penyikapan yang hampir selalu saya temukan dalam fenomena �Renta-renta kerja� ini adalah banyaknya orang yang menghujat anak para orang renta yang masih tetap bekerja karena membiarkan orang tuanya bekerja di usia senja.

�Aduuuh, kasihan, sudah tua kok masih saja kerja, ini anak-anaknya pada kemana sih, tega banget!�

Begitulah komentar yang lumrah kita temui di berbagai postingan-postingan �The power of Twitter.

Komentar tersebut tentu saja adalah sebuah komentar yang wajar dan manusiawi. Di negara yang konon katanya penuh dengan ajaran welas asih ini, melihat orang tua renta bekerja keras tentu akan memunculkan rasa kasihan. Hal ini lumrah adanya.

Namun sayang, Kita seringkali hanya memandang dari sisi kasihan kita, tanpa pernah mencoba untuk pernah memandang dari sisi batin si orang tua.

Saya punya pandangan tersendiri soal hal ini.

Baca Juga ;

Beberapa tahun yang lalu, saya berkunjung ke rumah mbah (nenek) saya di kaliangkrik, saya memang rutin ke sana, karena memang emak saya membuka warung lotek dan soto di dekat sekolah tak jauh dari rumah mbah saya, emak saya pulangnya seminggu sekali, jadi kalau saya kangen emak, biasanya saya bakal menyempatkan waktu berkunjung ke sana.

Jarak dari rumah mbah dengan warung emak saya memang nanggung. Dekat tapi jauh, sekitar 300 meteran. Kalau pakai motor terlalu dekat, tapi kalau jalan kaki ya lumayan capek. Apalagi jalannya naik.

Nah, waktu itu, saya dibuat jengkel sama mbah saya. Pasalnya, mbah saya memaksa saya untuk mengantarnya ke warung. Saya tidak mau, karena saya inginnya mbah saya istirahat saja di rumah, soalnya beberapa waktu sebelumnya, mbah saya baru saja kecelakaan, terserempet motor saat mau nyebrang jalan, dan kakinya sempat harus dijahit beberapa jahitan.

�Gus, mbok ya simbah diantarkan ke warung,� rajuk mbah

�Ndak usah mbak, mbah di rumah saja, leyeh-leyeh, istirahat,� sahut saya

Baca juga ;

Tapi mbah saya terus saja memaksa, dan saya pun tak kalah untuk terus membujuk mbah agar mau istirahat saja di rumah. Tarik ulur antara nenek dengan cucunya ini berjalan dengan sangat alot. Hingga pada suatu titik, saya akhirnya menyerah, pertahanan argumen saya jebol, bukan karena saya diplomat yang buruk, tapi karena mbah saya akhirnya mengeluarkan jurus terbaiknya: mengancam.

�Yo wis, biar mbah jalan kaki saja,� begitu kata mbah saya.

Hasilnya bisa ditebak, saya akhirnya mengizinkan mbah ke warung dan mengantarkannya. Puas kau mbah?

Di warung, mbah saya dengan gesit dan sigap membantu emak saya. Mulai dari menyiapkan aneka bahan dagangan, nguleg bumbu, hingga mencuci piring-piring dan gelas kotor, padahal emak saya dan bulik (yang juga bantu-bantu emak di warung) sudah melarang mbah, tapi apa daya, mbah tetep ngoyo pengin bantu-bantu je.

Pada titik itu, akhirnya saya tersadarkan, bahwa seringkali, bentuk perhatian kita tak selamanya berbalas sesuai dengan tujuan.

Kadang, menyuruh kakek dan nenek kita untuk berdiam diri dan istirahat saja di rumah malah menjadi hal yang sangat menyiksa bagi mereka, dan membiarkan mereka bekerja seringkali justru menjadi salah satu cara membahagiakan mereka.

Baca Juga :

Bagi orang tua yang sudah begitu sepuh, salah satu tujuan dan semangat hidup yang masih tersisa adalah membantu anak-anaknya dan memberikan uang jajan untuk cucu-cucunya dari hasil kerja keras sendiri. Dan bekerja menjadi salah satu pelampiasan terbaik.

Bagaikan menggarami lautan, mereka bakal sangat bahagia tatkala bisa memberikan materi untuk anak anaknya, kendati sebenarnya, anak anaknya sudah sangat mampu secara finansial.

Mangkanya, kalau ndilalah sampeyan melihat ada orang tua renta yang masih saja sibuk kerja, berdagang misalnya, cukup doakan dan larisi dagangannya. Jangan hujat anak-anaknya, karena kita tak pernah tahu, apa yang sudah anak-anaknya usahakan untuk dia.


Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar